Excuse me, Miss – Part 13a

excuse-me-miss

Part 13 – Can’t Stop

Beta Reader : Hwayong Kim

cre poster : Jiell

Gadis berambut coklat sebatas bahu itu kembali menarik nafas dalam. Ia kesal karena tiba-tiba saja merasa berat hati hanya untuk melakukan hal yang biasa dilakukannya. Ditatapnya lagi ponsel layar sentuh yang telah menampilkan nama yang akan dihubungi. Nama yang selalu ada di daftar riwayat panggilan ponselnya.

Siang ini, ia hanya ingin bertemu lelaki itu. Ingin bersama dengannya, berjalan-jalan atau hanya makan siang. Entahlah! Sejak lelaki itu memutuskan untuk menikah dengan si pilihan ketiga dan sejak dirinya memutuskan untuk membiarkan pernikahan itu, ia merasa ada yang tidak beres dengan hidupnya. Ia merasa semua inisalah. Seharusnya, ia membatalkan pernikahan itu dengan cara apa pun. Tapi nyatanya, dan yang membuatnya tidak mengerti hingga hari ini, ia membiarkan pernikahan itu terjadi. Bahkan dengan penuh suka cita menghadiri pernikahan itu seperti orang gila.

Ia menghela nafas lagi, mengenyahkan ganjalan aneh yang membuatnya merasa tidak pantas melakukan hal ini. Jung Nicole adalah gadis dari keluarga baik-baik dan berpendidikan. Ia begitu menyukai sahabat kecilnya, Kim Kibum. Mereka tumbuh bersama. Awalnya, Key selalu melindunginya seperti seorang kakak, Key juga selalu ada di dekatnya. Dan apa pun yang terjadi pada Nicole, Key akan selalu menjadi orang pertama yang menghampirinya. Meskipun ia memiliki satu sahabat lain di sisinya –Kim Jonghyun- tapi perasaan seperti ini hanya tumbuh untuk Key. Teman-teman sekolah mereka selalu mengatakan bahwa Key dan Jonghyun bagaikan kembar identik karena mereka hampir selalu sama dalam berbagai hal. Tapi bagi Nicole, hanya Key yang bersinar di matanya.

Nicole kembali menghela nafas. Ia tahu bahwa seharusnya ia berhenti menempeli Key seperti ini, karena kini lelaki itu telah beristri. Tapi ia begitu buta, ia merasa Key hanya boleh dimiliki olehnya. Lagipula, Nicole akan tetap menyangkal bahwa Key memang mencintai si pilihan ketiga. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada awalnya Nicole mengira semuanya hanya sandiwara Key. Sebuah rancangan luar biasa agar Key kembali mendapatkan seluruh hak-haknya. Tapi hari itu, pada pesta pernikahannya, si pengantin wanita pingsan karena kelelahan. Dan itu kali pertamanya Nicole melihat Key mengkhawatirkan gadis lain selain dirinya. Nicole ingat betul saat duduk di bangku SMP dulu, ia pernah mengalami kecelakaan, tertabrak sebuah mobil. Dan saat itu, Key berlari menghampirinya, ia terlihat begitu panik dan segera menggendong Nicole. Dan di hari pernikahan itu pun, Nicole melihat kecemasan yang justru berlipat-lipat dibandingkan yang pernah ia lihat sebelumnya. Nicole tidak mau mengakui bahwa malam itu Key terlihat begitu panik, menyentuh wajah si pilihan ketiga lalu menggendongnya keluar ruangan pesta. Nicole juga tidak suka bagaimana kedua tangan Key menyentuh tubuh gadis itu.

Nicole menggeleng. Ia muak dengan perasaannya sendiri. Seharusnya ia merasa sakit hati karena Key membatalkan perjodohan mereka, karena nyatanya Key tidak mencintainya. Tidak! Key berbohong. Selama ini Key hanya belum menyadarinya. Meski Key terang-terangan mengatakan ia mencintai Choi Minhee, tapi bagi Nicole, perasaan cinta yang sesungguhnya hanyalah bagi dirinya. Key hanya belum menyadarinya.

Akhirnya, Nicole menekan tombol panggil pada ponselnya. Tak peduli jika tindakannya saat ini seperti wanita yang hendak merusak rumah tangga orang lain. Ia yang lebih dulu menyukai Key, dan ia berhak untuk mendapatkan lelaki itu dibandingkan si pilihan ketiga.

“Ya, Nicole. Ada apa?”

Nicole sedikit tersentak. Ia masih melamun dan tidak menyangka Key akan menjawab panggilan secepat biasanya.

“Kau di mana?”

“Aku? Aku dalam perjalanan menuju Heogi-dong?”

Heogi-dong?” Rasanya baru kali ini Key pergi ke tempat itu. Di dunia ini, tak ada hal yang tak Nicole ketahui tentang Key. Ke mana lelaki itu pergi, bahkan saat Key pergi hanya untuk menghabiskan uang dan waktunya pun, Nicole selalu tahu.

“Oh! Rumah orang tua Hyeri.”

Jawaban singkat yang begitu jelas dari mulut Key membuat Nicole terdiam sesaat. Baru saja pikirannya kacau karena si pilihan ketiga. Dan saat ini, justru Key sedang bersama si pilihan ketiga. Nicole mendengus. Apa yang dipikirkannya? Tentu saja Key akan selalu berada bersama si pilihan ketiga, mereka sudah menikah.

“Ah! Tadinya aku berpikir untuk mengajakmu ke café…” Nicole diam sejenak. Merasa ragu dan sedikit menimbang. “hari ini aku merasa sedikit tidak baik. Tapi sepertinya kau sedang-“

“Café mana? Aku bisa datang setelah mengantar Hyeri.”

Hei! Benarkah boleh seperti itu? Batin Nicole. Nicole merasakan sepercik rasa bahagia dalam hatinya. Ia yang tadi sempat berpikiran bahwa Key akan mulai menjauh dan tidak lagi menganggapnya spesial ternyata salah. Nyatanya, lelaki itu masih membuat dirinya merasa spesial. Bahkan setelah pernikahan itu.

Nicole mengembangkan senyum. “Hubungi aku setelah kau mengantar…hemm… Hyeri,” Nicole mengepalkan tangan kirinya, lalu menggigit buku jari telunjuknya. “akan kuberitahu tempatnya nanti.”

“Call!”

Lalu, begitulah sambungan telepon mereka berakhir. Nicole kembali tersenyum, kali ini lebih mengembang dari sebelumnya. Dadanya berdebar-debar. Kini ia yakin bahwa memang seharusnya ia tidak memedulikan lagi apakah Key telah menikah atau tidak. Ia berhak untuk memiliki lelaki itu dengan cara apa pun.

“Baru menghubungi Key?” Suara yang sama sekali tidak asing itu menginterupsi pikiran Nicole.

Nicole menoleh ke belakang, tepat di daun pintu kamarnya.

“Sebaiknya kau mengetuk pintu dulu.” Tanggap Nicole. Ia menaruh ponsel ke meja riasnya, lalu beranjak menuju lemari pakaian.

“Aku belum masuk.” Sergah Jonghyun. Ia tersenyum kecil melihat tingkah Nicole yang berusaha menutupi rasa senangnya.

Tok…tok…tok…

“Boleh aku masuk? Aku sudah menunggu di ruang tamu selama emm… dua puluh empat menit.”

“Masuklah!” Akhirnya Nicole mempersilakan.

Jonghyun mendorong pintu kamar yang memang sudah sedikit terbuka. Ia masuk ke dalam dan melangkah menuju ranjang, lalu duduk di tepinya.

“Sudah lebih dari satu bulan aku kembali dari Jepang. Rasanya sudah lama sekali kita tidak bermain bersama,” Jonghyun memulai percakapannya.

“Seharusnya kau menghubungiku lebih dulu, aku sudah membuat janji dengan yang lain.” Nicole meraih terusan berwarna hitam dengan panjang setengah paha. Lalu melemparnya ke atas ranjang.

Jonghyun meraih terusan hitam tadi, lalu meniliknya. “Yang lain? Key?”

Nicole tak menjawab. Ia mengacak-acak koleksi jaket dan coat-nya.

“Sejak dulu, aku selalu tahu bahwa kau menyukai Key. Dan sejak dulu pun aku selalu tahu bahwa Key tidak memiliki ketertarikan seperti lelaki dewasa pada wanita dewasa terhadapmu. Jujur saja, aku sama sekali tidak terkejut saat mengetahui Key tidak menikah denganmu.” Jonghyun menaruh kembali terusan hitam ke atas ranjang. Lalu menatap Nicole yang tengah membandingkan coat merah dan cropped jaket berbahan denim.

“Di dunia ini, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak kau ketahui.” Terang Nicole.

Jonghyun mengulurkan kedua tangannya ke belakang, menumpukan berat tubuhnya pada kedua telapak tangannya. “Min Hyeri. Menurutmu gadis itu cantik?” Alih-alih menanggapi kalimat sinis Nicole, Jonghyun segera menyerang Nicole.

Nicole tidak menjawab, tapi Jonghyun bisa merasakan bahwa gadis itu mendengus kesal. Jonghyun lalu terkekeh. “Kau tidak mengenal Min Hyeri-ssi rupanya. Sayang sekali…” Jonghyun lalu beranjak, melangkah mendekati Nicole dan berdiri di belakang gadis itu. Nicole berbalik, membuat mereka berhadapan. “padahal, ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu tentang Min Hyeri-ssi. Jujur saja,” Jonghyun kembali mendekat, kali ini tangan kanannya menyentuh pipi kiri Nicole. “Min Hyeri-ssi sangat menarik perhatianku.” Jonghyun tersenyum. Senyum penuh kharisma yang seharusnya bisa membuat wanita manapun yang melihatnya berteriak dan bergetar lemas. Tapi di mata Nicole, senyum itu lebih terlihat seperti sebuah sindiran halus.

Nicole tersenyum kecil sambil mendelik, ia berusaha untuk tidak mengatakan terlalu banyak pada Jonghyun. “Menarik? Kau bermaksud untuk-“

“Tidak!” Jonghyun melangkah mundur, lalu berbalik dan berjalan menuju jendela kamar Nicole. Ia menatap keluar. “aku hanya merasa gadis itu menarik. Tidakkah kau merasa pernah melihatnya di suatu tempat?” Tanya Jonghyun.

Nicole menatap punggung Jonghyun serius, mencoba berpikir apa ia pernah bertemu Min Hyeri sebelumnya. Tentu saja! Ulang tahun Choi Minhee. Tidak! Tapi, bukan itu yang dimaksud Jonghyun. Lelaki itu bahkan masih berada di Jepang saat ulang tahun Choi Minhee.

“Tidak.” Tanggap Nicole singkat.

Jonghyun berbalik, melangkah perlahan mendekati Nicole. “Jyaa, besok, jika kau tidak ada rencana apa pun, aku akan mengajakmu bermain bersamaku. Eottae, Ni-ko-ri-chan?” Jonghyun menggunakan dialek khas Jepangnya saat menyebut nama Nicole.

Lelaki itu mencondongkan tubuhnya, wajahnya tepat di hadapan Nicole. Lelaki itu mengulum senyum. Sementara tangan kanannya berada di kening Nicole, seolah hendak menyentil kening Nicole. Nicole hanya menatap Jonghyun. Jujur saja ini mengingatkannya pada masa kecil mereka dulu.

Sure!” Jawab Nicole akhirnya. Dan seperti yang sudah ia duga, Jonghyun akan menyentil pelan keningnya sambil tersenyum.

“Baiklah! Aku akan menunggu kabar darimu besok,” lelaki itu melangkah menuju pintu. “rasanya sudah lama tidak bermain dengan teman masa kecil. Bagaimana ya? Tapi aku begitu merindukannya.” Dan tanpa menengok lagi ke arah Nicole, Jonghyun keluar kamar.

Nicole tertegun melihat punggung Jonghyun, rasanya selalu sama.

FLASH BACK

“Nikori-chan, kenapa menangis?”

Suara itu datang dari belakang Nicole, terdengar derap langkah tergesa-gesa.

“Nikori-chan, sesuatu terjadi padamu?” Tanya suara itu lagi.

Sesenggukan, Nicole mengangkat wajahnya. Meski malu karena berlinang air mata, ia tetap menatap wajah Kim Jonghyun yang tengah berjongkok di hadapannya.

“Nikori-chan, siapa yang membuatmu menangis?” Tanya Jonghyun lagi.

Nicole berusaha untuk menghentikan tangisannya. Tapi, semakin ia berusaha, semakin deras air mata itu berjatuhan dari mata kecilnya. Karena tak kunjung bisa mengucapkan sepatah kata pun, Nicole akhirnya menunjukkan kotak yang sedaritadi digenggamnya.

Jonghyun meraih kotak itu lalu membukanya. Kedua alis tebalnya saling bertautan. Lantas kedua matanya berbinar menatap benda dalam kotak tersebut. “Kau membuatnya sendiri?” tanyanya antusias. Nicole hanya mengangguk, lalu mengusap lagi air matanya. Sesaat Jonghyun hanya diam menatap cokelat berbagai bentuk dalam kotak. Aroma khas cokelat dan tampilannya yang menggugah selera membuat Jonghyun ingin mengambil salah satu dan mencobanya, terlebih lagi Nicole yang membuatnya.

Tapi tak lama, senyuman di wajah Jonghyun lenyap. Jonghyun menutup kotak tersebut, seolah merasa muak melihat benda di dalamnya.

“Sudah kubilang kan Key hyung tidak suka cokelat. Kenapa masih tetap membuat untuknya?”

Nicole tidak menjawab. Jonghyun memang telah memberitahunya bahwa Key tidak suka makanan manis, ia juga tidak suka cokelat pemberian para gadis, tanpa terkecuali. Dan Kim Jonghyun sudah berkali-kali memberitahu Nicole untuk melupakan cokelat dan hari valentine. Tapi tetap saja, meski usianya baru 13 tahun, tapi Nicole begitu menyukai Key yang selalu menjadi pelindungnya. Ia ingin berterima kasih sekaligus menyampaikan rasa sukanya pada lelaki itu. Tapi sayang, Key malah membuang cokelat yang disimpan Nicole di loker Key. Mungkin akan lebih baik jika Nicole menyelipkan kertas bertuliskan namanya dalam cokelat sehingga Key tahu bahwa cokelat ini bukanlah dari gadis lain.

“Begini saja, aku akan memberikan cokelat ini pada Key hyung.” Jonghyun berusaha menghibur Nicole. Tidak ada respon. “Aku akan memaksanya untuk menghabiskan semua cokelat dalam kotak milikmu.”

Saat itu, Nicole mengulas senyum lega. Kim Jonghyun yang merupakan saudara sepupu Key, lelaki yang 6 tahun lalu datang dari Jepang itu selalu bisa menghiburnya. Ia juga selalu membelanya jika Key membuat Nicole sakit hati. Jonghyun selalu bisa membuat suasana yang runyam menjadi lebih baik.

Nicole mengangguk sambil mengusap air matanya. Ia tersenyum lagi, bahagia bukan main karena ia yakin bahwa Jonghyun akan membuat Key menghabiskan semua cokelat yang telah dibuatnya. Dan itu membuatnya merasa menjadi gadis yang spesial bagi Key.

“Nah, seperti itu. Jika tersenyum Nikori-chan lebih cantik.” Jonghyun mengusap puncak rambut Nicole. Lalu ia menyentil pelan dahi Nicole. “Key hyung tidak akan membuatmu menangis lagi.” tambahnya.

“Di sini rupanya! Sejak kapan kalian bermain tanpaku?” suara menyebalkan itu datang dari arah timur keduanya. “Hei! Kenapa kau menangis?” Key ikut berjongkok di sisi kanan Nicole.

“Ini karenamu, Hyung!” Jonghyun menyodorkan kotak cokelat pada Key.

Key menggenggam kotak tersebut bingung, lalu dalam hitungan detik wajahnya berubah panik. “Kau memungut ini di tempat sampah?” tanyanya seperti orang bodoh.

“Ck! Kau baru saja membuang cokelat buatan Nikori-chan. Lelaki macam apa kau ini?” decak Jonghyun kesal.

Key menatap Nicole takut-takut. “Ini darimu?” Nicole mengangguk. Key sempat diam beberapa detik, seolah tengah berpikir keras. Tapi, wajahnya yang tadi panik berubah menjadi serius. “Seharusnya kau tidak membuat yang seperti ini. Maksudku…” Key menggigit bibir bawahnya. “kau seperti tidak tahu saja kalau aku tidak suka makanan yang manis. Lagipula, tidak ada nama pengirimnya. Itu salahmu!”

Tak ada yang bersuara. Lalu, Key membuka kotak dan meraih cokelat berbentuk hati dan memasukkannya ke dalam mulut. “Nah, aku akan menghabiskannya, berhentilah menangis.” Key berusaha mengunyah makanan manis itu dan menelannya cepat.

Nicole tersenyum sambil kembali mengusap air matanya. “Gomawo.” Bisiknya. Key hanya mengangguk sambil mengulum cokelat yang baru ia masukkan ke dalam mulutnya.

“Hei Kim Jonghyun, kau juga harus memakannya!”

“Sirheoyo! Kau bilang akan menghabiskannya sendiri.”

“Hei! Hei! Ini buatan Nikori-chan, kau juga harus memakannya. Dengan begini persahabatan kita bertiga akan semakin erat.”

Jonghyun tersenyum tipis, lalu meraih salah satu cokelat dari dalam kotak dan mulai mengunyahnya. Mereka bertiga lalu teratwa bersama. Saat itu, Key merangkul bahu Nicole, meremas bahunya pelan. Seolah mengatakan agar Nicole berhenti menangis.

“Nah, jam istirahat masih belum usai. Bagaimana jika kita ke kantin membeli minuman?” Tawar Jonghyun tiba-tiba. Ia lalu bangkit.

“Ide bagus!” tanggap Key. Ia memaksa Nicole untuk beranjak. Merangkul bahu Nicole dan berjalan bersama.

“Yang sampai paling akhir harus membayar minuman.” Jonghyun lalu mendahului keduanya, berjalan santai di depan Key dan Nicole.

 

END OF FLASH BACK

***

Key mengendarai mobil dengan kecepatan statis. Ia tak henti bersenandung sejak dirinya dan Hyeri memulai perjalanan. Hatinya benar-benar merasa lebih baik satelah Hyeri menghiburnya. Oh! Bahkan secangkir vanilla latte yang dibuatkan Hyeri pagi ini terasa begitu nikmati baginya. Terdengar berlebihan, tapi rasa-rasanya ia belum pernah mencicipi vanilla latte seenak pagi tadi. Vanilla latte yang mengobati sakit hatinya.

Ponsel yang ia taruh di dashboard berdering, memperdengarkan refrain dari lagu Phone milik Lady Gaga. Key meraih headset dan segera menyumbatkannya ke lubang telinga.

“Ya, Nicole. Ada apa?”

Suara Nicole terdengar sedikit parau di seberang sana. Sepertinya ia sedang tidak sehat, batin Key.

“Ah! Tadinya aku berpikir untuk mengajakmu ke café…” jeda sejenak. “hari ini aku merasa sedikit tidak baik. Tapi sepertinya kau sedang-“

Café mana? Aku bisa datang setelah mengantar Hyeri. Call!

Sambungan telepon berakhir, Key melepas headset-nya.

“Siapa?”

Key menoleh ke samping kanannya. “Oh! Nicole.” Jawabnya enteng.

“Kalian akan bertemu? Di mana?” Sedetik kemudian Hyeri memejamkan kedua matanya cepat. Ia merasa terlalu banyak ingin tahu. Tidak! Ia memang ingin banyak tahu mengenai hubungan Key dan Nicole.

Key mengembalikan fokusnya ke jalanan. Ia lalu tersenyum kecil. “Kau tidak lupa kan peraturanku untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing dan kurasa kau juga menulis untuk tidak saling mengganggu wilayah pribadi.”

Deg!

Entah mengapa kalimat itu membuat Hyeri merasakan nyeri yang aneh di dadanya. Ia merasa harga dirinya jatuh karena ucapan Key. Selain itu, kini ia tahu bahwa Nicole bukan hanya sahabat bagi Key, tapi juga gadis yang ada di wilayah pribadinya, yang tidak boleh diketahui oleh Hyeri.

Hyeri menghela nafas pelan, padahal, beberapa menit yang lalu si mata rubah masih meminta perlindungannya dari patah hati. Tapi sekarang, bisa-bisanya ia mengatakan hal yang tidak pantas seperti itu. Hei, di mana Nicole-mu saat kau patah hati? Rutuk Hyeri dalam hati.

“Kurasa kau juga belum lupa bahwa salah satu peraturanku mengatakan untuk saling memberitahukan keberadaan masing-masing dan sedang bersama siapa. Tujuannya untuk saling melindungi. Tidak usah berpikiran macam-macam!” Timpal Hyeri ketus.

Key melirik Hyeri, memerhatikan ekspresi wajahnya diam-diam. “Aku akan pergi bersama Nicole ke salah satu café. Itu cukup kan? Jika Eomma-ku tiba-tiba menghubungimu dan menanyai soal keberadaanku, katakan saja seperti itu.” Terang Key dengan suara yang sangat menyebalkan bagi Hyeri.

“Ya sudah, kau turunkan saja aku di sini. Aku akan naik bus.” Pinta Hyeri tiba-tiba.

Mau bagaimana lagi? Suasana hatinya berubah menjadi tidak nyaman. Padahal, ia pikir Ibu dan adik kembarnya akan senang bertemu si mata rubah.

“Aku akan bertemu Nicole setelah mengantarmu.”

“Aku bilang turunkan aku di sini!”

“Kau ini kenapa sih, Miss? Membuat mood-ku buruk saja.” Keluh Key.

“Kau! Kau terlihat seperti supir jika datang hanya untuk mengantarku lalu pergi. Sebaiknya aku naik bus saja. Aku sedang menjaga harga dirimu di depan keluargaku. Berterimakasihlah sedikit!”

Sebenarnya, Hyeri tidak mau jika keluarganya kecewa dengan kedatangan Key yang hanya mengantarnya saja. Keluarganya memang berharap terlalu banyak pada Key. Terlebih Eomma-nya yang selalu menganggap Key adalah lelaki yang membawa angin segar bagi keluarganya.

“Apa kau bilang? Supir? Sudahlah, yang orang-orang tahu aku ini adalah suamimu. Mereka justru akan berpikiran  aku adalah suami yang baik karena masih sempat mengantar istrinya meskipun ia memiliki urusan penting yang lain.” Key lalu terkekeh pelan. Merasa ucapannya adalah lelucon yang pantas untuk ditertawakan.

“Urusan penting kau bilang?” Hyeri mendengus.

“Yaa! Apa yang akan kulakuan bersama Nicole bukan urusanmu sama sekali!”

Arasseo! Sekarang turunkan aku!” Hyeri melepas sabuk pengamannya, lalu meraih tas berisi pakaiannya di jok belakang.

Karena tersulut emosi, mau tak mau Key menepikan mobilnya. “Ya sudah, turun saja di sini! Keras kepala sekali!”

“Apa kau bilang? Kau yang keras kepala! Dasar Tuan congkak!” Hyeri membuka pintu mobil. Lalu melangkah keluar dengaan gusar. Puncaknya saat ia membanting pintu mobil penuh amarah.

Ada sesuatu yang membuatnya tersinggung oleh ucapan Key. Mungkin ia berharap terlalu banyak dari lelaki itu. Bisa melindungi lelaki itu tidak berarti ia bisa memercayainya sepenuh hati. Toh nyatanya Hyeri merasa masih ada tembok tinggi yang menghalanginya untuk bisa mendekati Key dan memercayainya.

Hyeri berjalan gusar ke pinggir jalan, entah mengapa iaberharap bahwa Key akan meminta maaf padanya. Bodoh! Nyatanya lelaki itu hanya menatap kesal dari balik kaca mobil, lalu melesat begitu saja. Hyeri hanya bisa memejamkan mata menahan amarah, ia bahkan melihat mobil Key yang telah berputar arah dan melesat melewatinya dari seberang jalan. Sial! Kali ini Hyeri marah luar biasa. Dasar lelaki bodoh!

Hyeri diam beberapa saat di tempatnya, menarik nafas beberapa kali agar pikirannya lebih tenang. Ia lalu melangkah menuju halte bus yang memang tidak terlihat dari pandangannya. Jarak yang harus ditempuhnya menuju halte bus cukup jauh dan Key harus membayar ini.

***

Hyeri mengetuk pintu beberapa kali sebelum seorang anak lelaki dengan pull-over berwarna beige membukakan pintu.

Nuna!” Pekiknya bahagia. Anak lelaki itu segera memeluk Hyeri, lalu membawakan tas yang dibawa Hyeri, berikut tas plastik lainnya yang berisi oleh-oleh.

“Bagaimana kabar Eomma dan Jaesun? Kau merawat mereka dengan baik, kan?” tanya Hyeri saat mereka berjalan menyusuri lorong sempit menuju ruang tengah.

“Tentu! Aku merawat mereka dengan baik seperti yang Nuna katakan. Nuna tidak usah cemas. Percayakan saja padaku. Bagaimana kabar Nuna? Apa kehidupan pernikahan menyenangkan? Oh! Mana Key hyung?”

Hyeri tersenyum kecil. Pertanyaan Jaehwa masih baik-baik saja sebelum anak itu menyebut nama si mata rubah.

“Bagus! Nuna akan selalu mengandalkanmu. Hemm, pertanyaanmu terlalu banyak. Kita makan dulu saja, Nuna lapar sekali.” Hyeri merangkul bahu Jaehwa, memaksa adiknya untuk berjalan lebih cepat.

“Hyeri-ya!” Sosok yang selalu terlihat sama itu berhambur dari ruang tengah. Wajahnya terlihat berseri-seri meski gurat lelah tak pernah lepas darinya.

Eomma…

Hyeri menjatuhkan dirinya dalam pelukan Eomma tercinta. Sedikit rasa haru mendesak dadanya. Terasa berlebihan, tapi kini Hyeri merasa bahwa kebersamaan yang telah berlalu begitu berharga. Sebelum pernikahannya, Hyeri tak pernah menganggap sebuah pertemuan sebagai sesuatu yang amat berharga. Tapi sekarang, rasanya berbeda. Ia merasa sedikit melankolis dengan hal ini. Mungkin nanti, ia tidak bisa sering-sering bertemu dengan keluarganya.

“Oh! Mana Kibum?” Nyonya Min melongok ke arah pintu masuk. Menatap Hyeri penuh tanya karena tak mendapati orang yang dicarinya.

“Oh! Key…” Hyeri menggigit bibir bawahnya. “Dia sedang ada urusan penting. Dia minta maaf tidak bisa datang kemari.” Dan detik berikutnya, Hyeri menyesal bukan main karena melindungi lelaki bodoh itu.

“Ah! Sayang sekali.”

Hyeri bisa melihat gurat kecewa di wajah Eomma-nya.

“Masak apa hari ini? Ah! Aku lapar sekali!” Hyeri berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia berjalan lebih cepat menuju ruang tengah.

Di sana, ia mendapati Jaesun tengah duduk bersandar pada sofa baru mereka. Anak lelaki itu tengah menonton televisi dengan selimut tebal menutupi sebagian tubuhnya. Jaesun memperlihatkan perkembangan kesehatannya yang sangat baik. Ia juga mengatakan bahwa Dokter sudah memperbolehkannya makan beberapa jenis makanan yang lebih padat dibanding bubur. Anak lelaki itu begitu senang bisa bertemu dengan Hyeri. Ia tak hentinya mengatakan untuk segera sehat dan membantu Jaehwa menjaga Eomma mereka.

***

Matahari musim gugur merengsek mendekati peraduannya. Hembusan angin dingin dan awan kelabu yang menggantung sejak siang berubah menjadi tetesan hujan. Hyeri dan keluarganya tengah menyantap makan siang yang sedikit terlambat. Jaesun dan Jaehwa baru saja memulai pertengkaran mereka mengenai kelas seni rupa di sekolah mereka. Jaehwa mengatakan bahwa seni tidak memiliki batas, sekalipun ada nilai moral yang dilanggar. Sementara Jaesun mengatakan bahwa pemikiran seperti itu hanya datang dari mereka yang tidak memahami seni. Hyeri tidak bisa menengahi pertengkaran kecil itu. Lagipula, keributan seperti inilah yang membuat keluarganya terasa bahagia.

Hyeri beranjak, berjalan menuju jendela dapur. Ia menatap keluar, kedua matanya memerhatikan tetesan hujan yang semakin deras membasahi bumi. Dan entah mengapa, ia tiba-tiba teringat akan Key. Hal bodoh yang melintas dalam pikirannya adalah sebuah pertanyaan ‘Apakah lelaki itu tidak kehujanan?’ Hyeri lalu mendengus, nyaris memukul kepalanya sendiri karena telah memikirkan hal yang sama sekali tidak penting. Biar saja jika lelaki itu kehujanan atau bahkan sakit, karena itu bukan urusannya sama sekali.

Nuna! Tidak makan pudding-nya?”

Suara Jaehwa serta merta membuyarkan lamunan Hyeri. Ia menoleh, sama sekali tak menyadari bahwa pertengkaran si kembar bahkan sudah selesai. Kini mereka tengah menyantap pudding yang Hyeri yakini adalah pudding karamel, satu-satunya rasa yang selalu dibuat Eomma mereka. Pudding karamel, rasa yang mengingatkan mereka semua pada mendiang sang Appa.

Hyeri melangkah menuju kursinya, lalu meraih sendok kecil, menatap pudding karamelnya. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Benar! Ia teringat akan almarhum Appa-nya yang telah lama pergi meninggalkan mereka. Meninggalkan beban hidup yang begitu berat bagi Hyeri. Ada rasa perih yang tiba-tiba tertoreh di dadanya, membuatnya sedikit sesak karena kenangan masa lalu yang nyaris ia lupakan. Tapi Hyeri lantas tersenyum kecil. Terkadang, sesuatu yang menyakitkan tak selamanya harus ditangisi, batinnya.

Nuna sudah kenyang.” Akhirnya ia menaruh kembali sendok kecil di samping piring pudding. Lalu menggeser piring di antara piring si kembar. “Jyaa, kalian bagi dua.” Ucapnya riang.

Dan begitulah pudding penuh kenangan itu menjadi bahan rebutan si kembar. Mungkin mereka tidak tahu bahwa pudding yang manis itu menyimpan kenangan pahit. Hyeri beranjak dari kursinya, kembali melangkah menuju jendela dapur untuk melihat hujan saat telinganya mendengar ketukan dari pintu depan.

“Oh! Ada tamu?” Nyonya Min menoleh ke arah pintu depan, meski ia tidak bisa melihatnya. Ia lalu beranjak. “Siapa yang bertamu di tengah hujan deras seperti ini?” tanyanya pada diri sendiri.

Hyeri sempat melirik ke arah pintu masuk –meski ia tidak bisa melihatnya- lalu kembali menatap tetesan hujan melalui jendela.

“Eii, bagaimana bisa kau sebasah ini?” terdengar suara Nyonya Min diiringi langkah kaki cepat menuju ruang tengah.

Hyeri sempat menoleh sekilas, tapi sama sekali tak tertarik pada tamu yang basah kuyup itu. Sementara Jaesun dan Jaehwa segera melesat menuju ruang tengah, mencaritahu siapa tamu mereka. Hanya beberapa detik hingga seruan si kembar terdengar ke dapur. Mereka menyebut-nyebut satu nama yang membuat dada Hyeri tiba-tiba berdebar.

Hyeri mengalihkan pandangannya dari jendela dapur, menatap ke arah ruang tengah yang jelas tak bisa dijangkau matanya. Ia diam, seolah menunggu jawaban atas tebakannya mengenai tamu yang baru saja datang. Degupan jantungnya makin tak karuan saat suara langkah kaki perlahan mendekatinya. Dalam pikirannya, ia menyangkal. Rasanya tidak mungkin jika orang itu dengan tidak tahu dirinya datang kemari.

“Hyeri-ya, suamimu datang. Ia basah kuyup. Sekarang ia di ruang tengah, ajaklah ke kamarmu untuk mengganti pakaian.”

Bagaikan tersambar petir. Apa yang diucapkan Eomma-nya barusan membuat jantung Hyeri nyaris lepas dari rongga dadanya. Baiklah, ia sedang muak bukan main pada lelaki itu. Tapi, mengapa ia tiba-tiba datang? Untuk membersihkan namanya di mata Hyeri? Lalu, kenapa ia bisa basah kuyup? Ah! Seharusnya itu bukan urusan Hyeri. Tapi pada akhirnya, kedua kaki Hyeri melangkah menuju ruang tengah.

Didapatinya Key yang tengah berdiri di dekat sofa sambil menggosok-gosok rambutnya dengan handuk. Ia mengobrol bersama si kembar yang duduk di sofa. Hyeri mendengus, sedikit tidak terima karena adik kembarnya terlihat begitu mengidolakan si mata rubah.

Hyung, kapan-kapan ajari kami bela diri.” Rengek Jaehwa.

“Betul! Hyung jangan pelit! Kami kan harus melindungi Hyeri Nuna.” Timpal Jaesun.

“Melindungi Nuna kalian? Kan aku yang akan melindunginya.” Terang Key. Dan membuat perasaan Hyeri campur aduk. Antara senang, tekejut, dan sebal.

“Aku tidak percaya, Hyung! Bagaimana jika suatu hari nantikau mengkhianati Nuna kami? Isi hati manusia kan tidak ada yang tahu.”

Bagus! Hyeri bersorak dalam hati. Rasanya ingin berlari dan memeluk Jaehwa karena telah melontarkan serangan pada si mata rubah.

“Hei! Hei! Mana boleh kau bicara seperti itu? Tapi…” Key terkekeh, lalu diam sejenak. Ia menurunkan handuk dari kepalanya, menyampirkannya di bahu. “beruntung sekali dia mempunyai adik seperti kalian.” Lanjut Key. Terdengar seperti kalimat pada dirinya sendiri.

“Ayolah, Hyung! Ajari kami! Jika suatu hari kau mengkhianati Nuna, kami akan menghajarmu.”

Binggo! Selama ini Jaesun terlihat jauh lebih pendiam di banding Jaehwa. Dan Hyeri nyaris tak percaya bahwa kalimat sekasar tadi meluncur dari mulut Jaesun. Hyeri mengulum senyum, tak sabar menunggu kalimat lain yang bisa membuat si mata rubah tumbang saat itu juga.

“Baiklah, kapan-kapan kuajari. Dan pastikan kalian harus lebih hebat dariku. Karena,” Key menggosok telinga kanannya dengan handuk. “percuma jika kalian menghajarku tapi tidak bisa menang.”

Si kembar bersorak riang.

“Yeah! Hyung, kita akan jadi ahli bela diri. Ah! Aku tidak sabaran. Key hyung, persiapkan dirimu. Karena jika kau mengkhianati Nuna, kami akan membuatmu babak belur.” Jaehwa menatap Key seolah menantang.

“Kenapa kalian jadi menakutkan seperti ini?” omel Key. Lelaki itu menatap si kembar takut-takut.

Si kembar tertawa puas, diikuti oleh Key. Dan saat itulah mata Key dan Hyeri bertemu, membuat Hyeri tersentak. Ia seolah terasadar dari lamunanya.

“Hei, Miss! Aku menghubungimu berkali-kali untuk menjemputku di halte bus. Kenapa tidak ada jawaban? Lihat! Badanku basah begini.”

Alih-alih menyapa Hyeri atau minimal mengatakan hal yang menyenangkan atas insiden sebelumnya, Key justru mengomel, seolah tak pernah terjadi apapun sebelumnya. Membuat Hyeri memutar bola matanya kesal. Melangkah gusar ke arah Key.

“Ya sudah! Ikut aku!” Hyeri melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Key mengekor. “Kenapa datang kemari? Kukira kau akan sangat sibuk bersama Nicole.” Hyeri membuka pembicaraan saat mereka menaiki tangga sempit.

“Mobilku mogok.” Jawab Key singkat.

Hyeri mendengus dalam hati. Ternyata memang benar, lelaki itu tak mungkin tiba-tiba datang kemari hanya demi Hyeri.

“Kenapa tidak pulang ke rumah saja?” Hyeri memulai perbincangan, tidak! Perdebatan tepatnya.

“Semauku!” tanggap Key acuh tak acuh.

Hyeri menghela nafas berat, berusaha untuk menahan emosinya. Setidaknya, selama lelaki itu berada di rumahnya, ia harus bisa menahan diri agar tidak melancarkan cacian seperti biasanya.

“Tunggu di sini.” Hyeri membuka pintu kamarnya lebar. Lalu melangkah menuju kamar lain berjalan beberapa langkah dari kamarnya dan berbelok ke kanan. Hyeri menghilang di salah satu pintu kamar yang ada di lorong setelah berbelok ke kanan.

Key masuk ke dalam kamar Hyeri. Merasa sedikit berbeda karena kali ini kamar itu cukup rapi, mengingat kedatangannya ke kamar ini selalu dalam keadaan sedikit kacau. Key mengedarkan pandangannya, lalu berjalan ke arah jendela kamar. Ia menatap hujan yang makin deras di luar sana.

“Ini pakaian Appa-ku, terlalu kuno dan kuharap kau tidak mengomel!”

Hyeri telah berada di daun pintu. Berjalan ringan menuju ranjang dan menaruh celana terening, t-shirt berukuran besar warna hitam, serta sebuah sweater berwarna abu-abu. Key berjalan mendekati ranjang, mulai memunguti pakaian yang disebutkan Hyeri tadi. Key menilik setiap potong pakaian yang diberikan Hyeri.

“Tidak ada pakaian lain. Kecuali kau mau memakai pakaianku.” Seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran Key mengenai pakaian itu, Hyeri segera menyerang dengan kalimat sinisnya.

Key berdecak pelan. “Ya sudah! Aku mau ganti baju. Tolong keluar, Miss.” Ucapnya tak kalah sinis. Tapi, Hyeri tetap berdiri di tempatnya dan melipat kedua tangan di depan dada. Key melirik Hyeri. “Kau mau melihatku ganti baju?”

“Percaya diri sekali! Kau ganti baju saja, ada hal lain yang harus kulakukan di dalam sini.” Hyeri melangkah menuju lemari pakaian membelakangi Key.

“Hei,hei! Kau tidak lupakan peraturanmu nomor satu. Ti-“

“Melihatmu ganti baju tidak akan membuat kita berhubungan sex.”

Hyeri mendengus sambil tersenyum licik, rasanya senang luar biasa bisa membalikkan kalimat si mata rubah. Seperti sedang melakukan knock out padanya. Ia lalu berjalan menuju meja belajar di dekat jendela, menatap hujan di luar sana, membelakangi Key. Sesaat ia mendengar helaan nafas dari Key yang terasa sedikit berat. Beberapa detik kemudian, ia bisa merasakan bahwa lelaki itu menutup pintu kamar dan mulai melepas pakaiannya.

Gesekan antara kaus basah dan kulit yang sedikit lembap menimbulkan suara khas yang tiba-tiba saja membuat dada Hyeri berdebar. Lalu, terdengar suara gesekan halus lain yang begitu khas. Lelaki itu sedang mengusap tubuhnya dengan handuk. Dari suaranya, Hyeri bisa memastikan bahwa Key memiliki cara yang sedikit berbeda dengan lelaki lain. Hyeri memang tidak pernah tahu terlalu detil mengenai hal ini, tapi yang ia tahu, lelaki akan menggosok tubuhnya dengan kasar. Tujuannya, agar tubuhnya cepat kering. Sama seperti si kembar yang terkadang menggosokkan handuk sedikit kasar pada tubuh mereka. Tapi Key, lelaki ini lain. Ia tidak menggosok, melainkan mengusap. Seolah tidak mau membuat tubuhnya tergores oleh handuk yang lembut itu.

Detik berikutnya, Hyeri mendengar suara dari zipper denim yang dikenakan Key. Kali ini matanya membulat menatap hujan. Ia tidak percaya hanya dengan mendengar suara seperti itu bisa membuat dirinya tak karuan seperti ini. Dan detik berikutnya, ia mulai gila dengan imajinasinya yang harus segera dihentikan. Hyeri memejamkan kedua matanya sembari menarik nafas dalam. Sebisa mungkin tak menimbulkan suara. Yang terjadi berikutnya, imajinasinya semakin kacau. Ia sendiri tidak bisa mengendalikannya. Ingin berlari, tapi artinya ia akan berbalik dan mungkin saja Key belum selesai berganti pakaian. Hyeri berpikir keras untuk menyelamatkan dirinya. Ini tidak benar. Ia bahkan tidak merasa aman dalam pikirannya sendiri.

Satu-satunya hal yang terpikirkan oleh Hyeri adalah membalikkan gelas yang posisinya tertelungkup di atas meja belajar, lalu mengisinya dengan air dari water pitcher. Ia meneguknya tanpa ampun, seolah aliran air yang melalui kerongkongannya akan membersihkan pikirannya yang sedikit tercemar.

Ia kemudian berusaha mengatur nafasnya, menghirup udara sebanyak yang ia bisa untuk menjernihkan pikiran. Ini bodoh! Sangat bodoh! Bagaimana bisa ia memkirkan hal memalukan seperti itu?

Dari ekor matanya, Hyeri bisa melihat siluet Key. Lelaki itu masih belum mengenakan sesuatu untuk menutupi bagian atas tubuhnya dan lagi, itu membuat dada Hyeri berdebar tak karuan. Bahkan kali ini Hyeri merasa kedua pipinya membengkak. Tidak! Mungkin kenyataannya pipinya tengah merah merona saat ini, tapi Hyeri selalu merasa kedua pipinya membengkak jika merasa malu.

Ia lalu kembali berbalik menatap jendela, sama sekali tidak bisa menjadikan tetesan hujan sebagai pengalihan pikirannya. Dan saat pikirannya kacau mencari-cari sesuatu yang bisa jadi pengalihan, ia merasakan sesuatu yang hangat di punggungnya. Hyeri menoleh perlahan, terkejut saat si mata rubah telah berdiri tepat di belakangnya, tanpa mengenakan sesuatu apapun di tubuh bagian atasnya. Hyeri terbelalak, bagaimanapun kedua matanya telah menangkap tubuh kurus tanpa abs di hadapannya itu. Dan yang lebih buruk adalah naluri wanitanya membimbing untuk menggerakkan kedua matanya ke bawah, mendapati zipper denim si mata rubah yang terbuka nyaris seperempatnya, memperlihatkan sekitar 3 senti underwear bertuliskan Calvin Klein.

Hyeri menelan ludah, memberanikan diri menatap sepasang mata rubah yang tengah memerhatikannya. “Kau pikir kau sedang apa?” ia berusaha membuat suaranya terdengar normal.

Alih-alih menjawab, Key justru melangkahkan lagi kakinya mendekati Hyeri. Ia terus menatap Hyeri, menambahkan sedikit seringai pada wajahnya.

“Apa?” Hyeri mundur secara elegan, berusaha untuk tidak terlihat panik. “Kau bisa masuk angin jika tidak memakai baju!” Hyeri mencari topik pembicaraan lain saat punggungnya telah menyentuh jendela. Ragu-ragu menatap mata Key yang jaraknya semakin dekat dan membuatnya terpaksa harus mendongak.

“Aku penasaran,” Key mencondongkan tubuhnya ke arah Hyeri. “apa yang kau pikirkan tentangku?” terdengar berani memang. Tapi, memang itulah tujuan Key. Menggoda Hyeri untuk sebuah kesenangan, sama seperti ciuman-ciuman yang telah lalu.

Hyeri memaksakan diri untuk tertawa hambar. “Yang kupikirkan tentangmu?” kini Hyeri memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnyake wajah Key, mengabaikan debaran jantungnyayang semakin menyiksa. “Kau adalah lelaki-yang-paling-menyebalkan-yang pernah-kutemui.” Lalu tersenyum puas.

“Bukan itu!” kali ini Key menekuk lututnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Hyeri. Memperpendek jarak mereka hingga hidungnya dan milik Hyeri nyaris bersentuhan. “Aku ingin tahu, apa yang sedang kau pikirkan saat ini tentangku?”

Deg!

Hyeri merasa tubuhnya diguyur air es. Ia tidak menyangka bahwa si mata rubah yang menyebalkan dan bodoh itu bisa membaca pikirannya. Lalu, sampai mana lelaki itu bisa membaca pikirannya?

“Yang kupikirkan saat ini, besok, lusa, dan seterusnya akan tetap sama. Kau lelaki yang paling menyebalkan yang per-“

“Tidak pernah berpikir aku tampan?” Key meraih pergelangan tangan kiri Hyeri, menguncinya di udara.

Hyeri menelan ludah pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Tidak pernah berpikir Key tampan? Tentu saja pernah! Saat pernikahan mereka, saat pertama kali melihat rambut hitamnya dan merasakan kecupan di kening itu. Key lebih dari sekedar tampan di mata Hyeri. Tidak! Tapi ini tidak benar! Lelaki itu memang tampan, tapi lelaki tampan tidak selalu patut dicintai.

“Tidak pernah berpikir bagaimana jika kedua tanganku memeluk pinggangmu, dan aku menciummu?”

Seperti orang bodoh, Hyeri segera mengimajinasikan setiap kata yang diucapkan Key. Dan yang lebih bodoh dari itu adalah imajinasi itu membuatnya senang seperti orang gila.

“Apa hal itu tengah berlangsung dalam pikiranmu? Apa yang terjadi selanjutnya? Biar kutebak,” Key mengerutkan dahinya seolah sedang berpikir. “Aha! Apa aku mendorongmu seperti ini?” serta merta tangan kiri Key meraih pinggang Hyeri, sementara tangan kanannya memaksa tangan kiri Hyeri melingkari lehernya. Dengan cepat ia memutar posisi, membuat dirinya yang membelakangi jendela kamar. Lalu berjalan cepat, mendorong tubuh Hyeri ke arah ranjang.

Hyeri sempat berontak, tapi gerakan Key terlalu cepat. Hingga saat ia menyadari untuk menghindar, Key telah lebih dulu mendorongnya. Terlalu cepat, bahkan Hyeri nyaris jatuh jika saja kedua tangannya tidak ‘terpaksa’ melingkar di leher Key. Ini gila! Kini, apa yang baru saja diucapkan Key tidak hanya berlangsung dalam kepala Hyeri, tapi tengah berlangsung di dunia nyata. Kedua tangan dingin lelaki itu melingkar di pinggangnya, sementara kedua tangan Hyeri melingkari leher Key. Lalu, seharusnya kini bibir mereka lebih dari saling bersentuhan. Dan seharusnya…

Hyeri tak sempat memikirkan apalagi yang seharusnya terjadi di dunia nyata karena kini tubuhnya telah terbaring di atas ranjang, dengan Key berada di atasnya. Lelaki itu menggunakan telapak tangan kanannya untuk menahan berat tubuh. Kepalanya tertunduk menatap Hyeri, rambut hitamnya menjuntai dan nyaris menyentuh wajah Hyeri.

“Kau pernah dengar tidak apa yang diucapkan seorang player sebelum mencium seorang gadis?” tanya Key yang lebih terdengar seperti sebuah bisikan.

Dan yang paling bodoh di antara seluruh kejadian ini adalah Hyeri yang justru membeku dan seolah tersihir oleh ketampanan Key. Ia tidak menanggapi pertanyaan Key yang seharusnya ia jawab dengan sebuah teriakan kasar atau mungkin tendangan dan dorongan. Ia seperti sebutir telur yang merasa bahagia terperangkap dalam jerat seekor rubah. Hanya mampu memandang dengan kedua mata sayunya, seolah menunggu Key melanjutkan kalimatnya.

Key tersenyum tipis sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Hyeri. Ia berbisik. “Aku menginginkanmu.” Lalu menempelkan bibirnya pada bibir Hyeri.

Ini aneh! Tapi bibir Key terasa hangat bagi Hyeri. Tidak seperti tubuh lelaki itu yang terasa begitu dingin.

***

Detik itu juga, Key bisa merasakan bagaimana bibirnya terasa begitu hangat. Kalimat yang barusan diucapkannya adalah salah satu dari sekian banyak hal yang diceritakan Taemin mengenai jurus-jurusnya dalam menaklukkan wanita. Dan yang satu ini, terdengar cukup nakal bagi Key, ia sendiri tidak menyangka akan melakukannya. Mungkin karena yang dihadapinya adalah si pelayan café, sehingga ia menganggap ini sebagai sebuah lelucon jika gagal. Tapi nyatanya, jurus ini memang jitu. Hyeri sama sekali tidak bergerak, tidak ada kata-kata kasar, cacian, bahkan tinju di wajah seperti yang telah lalu. Hyeri seperti kehilangan dirinya sendiri, gadis itu hanya diam, membiarkan Key melakukan apa yang ia suka.

Key merasa sedikit gugup saat menggerakkan bibirnya perlahan, memberikan lumatan kecil pada bibir Hyeri.  Ini bukan kali pertamanya ia mencium Hyeri dengan gaya seperti ini, di dalam lift rumah sakit, di balkon rumah sakit. Ciuman sejenis ini sudah pernah terjadi, bahkan di hadapan banyak orang. Tapi mengapa kali ini rasanya lain?

Hanya satu lumatan dan Key segera melepaskan bibirnya. Menatap kedua mata cokelat Hyeri. Key tidak mengerti, merasa terjebak dalam perangkap yang ia buat sendiri karena saat ini ia merasa jantungnya yang berdebar tak karuan. Ia merasa sepasang bola mata yang tengah memandanginya itu begitu lugu tak berdosa, tapi di sisi lain, ia merasa keluguan itu adalah sebuah permintaan. Permintaan halus dari kalimat ‘aku menginginkannya lagi’. Key menelan ludah pelan, berusaha tak membuat suara. Ia tidak mau si pelayan café menyadari kegugupannya.

Beberapa saat Key seperti kehilangan dirinya sendiri. Ia merasa ada orang lain yang mengendalikan dirinya untuk terus diam seperti ini, menatap sepasang mata itu dan membeku seperti orang bodoh. Key nyaris mendapatkan kembali kesadarannya saat kedua tangan Hyeri yang sedaritadi mengalung di lehernya bergerak menyentuh kedua sisi wajahnya.

“Key…”

Hyeri menatap kedua mata Key, lalu menyusuri wajah lelaki itu. Detik berikutnya, ibu jari tangan Hyeri mulai mengusap mata Key. Membuat lelaki itu refleks memejamkan matanya satu persatu saat Hyeri menyentuhnya. Kini pikiran Key sedikit kacau, berusaha memikirkan apa yang selanjutnya akan terjadi saat Hyeri merengkuh wajahnya. Ia sama sekali tidak percaya jika si pelayan café akan memberikan respon seperti ini. Jenis respon keenam setelah berteriak, mendorong, memaki, menendang, meninju, dan diam.

Dan di saat Key semakin tak bisa mengendalikan dirinya, memasrahkan apa yang akan terjadi pada intusisi dan takdir, tiba-tiba Hyeri tersenyum kecil. Ia kembali mengusap sudut mata kiri Key, lalu menunjukkan ibu jarinya tepat di hadapan Key. Key mengerjap beberapa kali karena jarak ibu jari tangan Hyeri yang terlalu dekat dengan matanya. Lalu beberapa detik kemudian, ia menemukan warna kehitaman di sana.

Eyeliner-mu luntur.” Ucapnya datar. Lalu Hyeri mengusap sudut mata Key yang lainnya. “Di sini juga.”

Seperti diguyur oleh air es. Tubuh Key yang tadinya seperti terbakar itu segera membeku. ia merasa akan mati karena keterkejutan ini. Padahal beberapa detik yang lalu ia berasumsi alasan si pelayan café menatap dan merengkuh wajahnya adalah intuisi seorang wanita dewasa terhadap lawan jenisnya yang begitu menarik.

Key kembali mengerjap, merasa dunianya kembali. “Apa?” pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Apa ini bukan water proof?” Hyeri bertanya balik. Ia kembali mengusap sudut mata Key.

Dengan cepat Key bangkit, meraih handuk di ranjang dan segera menutupi kepalanya. Menunduk sedikit sambil mengusap kedua matanya bergantian. Eye liner sialan! Umpat Key. Ini kali pertamanya luntur, apa yang terjadi?

Hyeri bangkit dari ranjang, merapikan dirinya sedikit. “Aku baru melihat matamu yang sesungguhnya. Tidak semengagumkan kelihatannya, ya?” Ucapnya dengan nada sindiran yang terasa begitu kental. Ia terlihat menahan tawa.

Key menggeretakan giginya, bagaimanapun, ini sangat memalukan. Dari semua cacian dan makian yang pernah diterimanya dari si pelayan café, inilah yang paling menyakitkan. Karena akhirnya si pelayan café mengetahui salah satu ketidaksempurnaannya.

Key kembali mengusap kelopak matanya dengan handuk, kali ini lebih kasar. Ia merasa kesal setiap kali melihat handuk itu menunjukkan warna hitam sialan.

“Sudah, sudah, tidak usah seperti itu. Lagipula aku sudah melihatnya.” Hyeri masih terkikik geli. Ia seperti seorang player yang baru saja merenggut mahkota korbannya.

Key menatap Hyeri, rasanya ingin melakukan sesuatu untuk membungkam mulut gadis itu agar berhenti menertawakannya. Sekali si pelayan café tertawa, maka ia sulit untuk berhenti. Benar-benar tipe orang miskin, batin Key. Hyeri masih terkikik saat rencana itu terbesit di pikiran Key. Ia melangkah santai mendekati Hyeri.

“Kau boleh tertawa sepuasmu, Miss. Karena setelah ini,” Key meraih tangan kiri Hyeri. Tepat di pergelangan tangannya. Membuat kikikan Hyeri berhenti. Wajah Hyeri segera berubah, tak ada lagi senyum puas di sana. Tergantikan dengan raut ketakutan yang berusaha disembunyikannya. “kita akan melanjutkan yang tadi.” Lanjut Key, bersamaan dengan tubuhnya yang semakin mendekat. Ia terus melangkah, memaksa Hyeri untuk mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.

“K-k-kau mau apa?” Gugup. Ternyata Hyeri begitu gugup hanya dengan sentuhan seperti ini, batin Key.

Key terus mendekat, dengan cepat tangan kirinya melingkar di pinggang Hyeri. Mengunci gadis itu dalam pelukannya. Key melepas genggamannya pada tangan kiri Hyeri, lalu mengusap mata kanannya. “Eyeliner ini mengganggu sekali, Miss.” bisiknya. Berusaha membuat suara yang terdengar begitu menggoda. Key segera mendekati wajah Hyeri saat merasakan usaha pemberontakan dari Hyeri. “Tahu tidak apa yang terjadi jika kau mengganggu singa yang lapar?” bisiknya.

Hyeri tidak menjawab, menatap Key takut-takut. Meski begitu, Key masih bisa melihat usaha gadis itu untuk terlihat tidak ketakutan dan itu terlihat lucu.

“ia akan sedikit marah dan,” Key mendekatkan bibirnya ke bibir Hyeri. Merasakan hembusan nafas Hyeri yang mulai tak beraturan. “kasar.” kemudian Key memejamkan kedua matanya sembari menyentuh bibir Hyeri dengan miliknya.

Kecil. Hanya sengatan kecil yang terasa di bibirnya, tapi cukup untuk membuat jantung Key kembali bermaraton. Kali ini tidak ada aroma lemon dari bibir Hyeri, tapi entah mengapa Key merasa ciuman ini memberikan sensasi yang 100 kali lebih hebat dibandingkan aroma lemon dan Key menyukainya. Mungkin nanti ia bisa menanyakan pada Taemin tentang aroma dan sensasi seperti ini.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam lumatan dan ini sangat buruk karena Key tidak bisa berhenti. Kedua tangan Hyeri yang perlahan bergerak hingga mengalung sempurna di leher Key membuat lelaki itu semakin tak bisa mengendalikan dirinya. Tujuh, delapan, sembilan, dan Key tidak bisa menghitung lagi karena ia merasa tubuhnya panas seperti terbakar. Kedua tangannya yang melingkar di pinggang Hyeri tanpa sadar bergerak perlahan menuju punggung, mengusap punggung Hyeri dengan gerakan lambat yang seolah mengatakan ‘aku ingin memilikimu’.
Nafas keduanya semakin menderu, tak ada yang berusaha menghentikan hal yang mungkin tidak mereka sadari telah terjadi begitu jauh. Sesekali mereka saling melepaskan diri, mengambil nafas secepat dan sebanyak yang mereka bisa, tapi tak lama, dan entah siapa yang memulai lebih dulu, mereka saling merengkuh, memulai lagi sentuhan-sentuhan antara bibir mereka. Kembali memberikan lumatan yang entah keberapa. Decakan dari bibir yang saling melumat, juga lenguhan kecil dari bibir Hyeri membuat Key merasa tubuhnya semakin panas.

Key bergerak perlahan, mengikuti apa yang otaknya perintahkan. Memberi sedikit dorongan pada tubuh Hyeri hingga gadis itu mengeratkan kedua tangannya di leher Key. Dan di saat lenguhan singkat lolos di sela ciuman mereka, Key tanpa sadar mendorong Hyeri ke atas ranjang. Segera menghujani Hyeri dengan ciuman bertubi-tubi, tanpa ampun, seolah dirinya adalah seekor singa yang tidak mendapat mangsa berbulan-bulan.

Ini buruk! Benar-benar buruk dan Key tidak bisa berhenti. Dan yang terburuk di antara semuanya adalah Hyeri yang sama sekali tidak berusaha menghentikan semua ini. Ia selalu memberikan respon pada setiap sentuhan Key, respon yang selalu berkembang di setiap detiknya. Hyeri seolah menunggu Key untuk menghentikan semuanya dalam situasi yang membara ini. Ini membuat Key gila! Ia adalah lelaki dan Hyeri sama sekali tidak berusaha menghentikan apa yang sedang terjadi. Dan jika hal itu terjadi, Key jelas tidak mau disalahkan karena Hyeri tidak menghentikannya.

Api telah membakar seluruh pembuluh darah di tubuh Key, dan kini telah mencapai ubun-ubun. Isi kepalanya mendidih, Key tidak bisa mengendalikan dirinya. Dan tepat di saat ia sepenuhnya tunduk pada perdaya setan dalam kepalanya, suara itu terdengar nyaring.

“Key, kau baik-baik saja?”

=TBC=


A.N :

Sebelumnya aku mau minta maaf karena part 13 ini lama banget munculnya *bow* ^^v Berhubung setelah aku baca lagi part 13 ini panjang banget, aku pikir ga adil buat yang nantinya ga bisa dapet pw ini karena alasan belum cukup umur,dan aku ga akan bikin versi skip-nya sebelum ffnya selesai, pasti bakalan kelewat banyak banget. Dan aku rasa summary dari apa yang terjadi di versi yang diproteksi ga akan cukup menggantinya. Jadi, aku buat dua bagian untuk part 13 ini. Di part 13b-nya barulah aku proteksi. Semoga ga pada keberatan, ya. Seperti biasa, saran dan kritiknya aku tunggu banget loh ya. Thank u😉

19 thoughts on “Excuse me, Miss – Part 13a

  1. first ?? W.O.W
    bacanya ikut deg-deg’an.. Pnggambaran situasinya , aku suka banget. Untung gak jadi ketemu Nicole,, huh, dia itu mngganggu saja. Lanjutkan :D… Good job ^^~
    oh iya buat pw, formatnya masih sama kah ?? Aku gk sabar part slanjutnya😀

  2. ya ampun, kak….
    kakak bikin wajahku panas sendiri, terus tegang, terus deg2an, terus ngakak g karuan gara2 eye liner luntur, trus to be continued waktu lagi seru2nya?????
    #ketahuanmesum

    kakak…. mau pw mau pw mau pw…
    harus buat kayak waktu minta pw archangel?

    • oh, iya. saking wow-ny di bagian akhir, jadi kelupaan bagian awal.
      itu si nicole di tiap cerita kk ttp keras kepala walaupun key udh nikah y -_-
      trus, sbnrny key cuma nganggap nicole teman dekatny doang kn?
      agak nyesek deh bayangi Key-Ri berantem cuma gara2 nicole yg dianggap salah satu urusan pribadi Key. *semoga kalo punya suami nnt aku nggak digituin*

      trus trus, bella agak bingung sama pembagian umurnya. entah agak tergilas atau gmn, anggapan bella si nicole tuh lebih muda dari Key y? soalnya jonghyun manggil dia sebaya. trus, sebenarnya jjong ada rasa sama nicole y? makanya jjong sebel waktu nicole udh pasti buat n ngasih coklat k key. trus, jjong perhatian bgt sama nicole brrt kan ada apa2ny #sotoymodeon

      syukur deh mobil key mogok trus g jadi jumpa ama nicole.

      oh y, masih banyak yg belum terjawabkan nih. soalny alasan key jadi benci banget sama jjong yg dulu sahabatny tuh msh blm terjawab. aaah… jadi bingung

      lanjutanny jangan lama2 y, kk~ #maksa
      hahaha…

  3. endingnya g enak bgt tuh!! jd gantug nafas nih gr2 penasaran….
    iyu key g lagi mengkhayal kn waktu ciuman ma hyeri?? itu yg tanya ke key, nicole atau hyeri?? masih ngambang nih…
    eh, si jjong suka ma nicole y kayakna?? kenapa sih key ma jjong jd musuhn? penasaran cerita masa lalu mereka, ….
    kapan dibongkar nih??
    sumpqh penasarana lanjutannya…
    next part lo bisa jgn lama2 y euncha…
    oya, cra wt dpt pw msh sma g formatnya?
    ku tunghu info and sambungannya…
    keep writing!!

  4. Jyaaaaaaa ahirna muncul jg part 13a hehehhe lma bngit nungguna n Woowwwww ikut tahan napasss…..aigoooo keyyyyyy keyyyyyyyyyy tahannn bang jgn mlnggar kontrak…..,, duh ksian Hyeri na klo key msh egois & mlakukn tu bkan brdasarkn cnta tulus yg ia sadari…..,, Eun Cha ssi ditunggu part 13 brikutna…saya sudah diatas 20thun kok….gomawooo….^_^

  5. wahhh akhirnya di publish juga part 13 nya….
    gak tau kenapa feelnya pas hyeri sama key kena banget.. pas baca jadi ikut degdegan dan rasanya kaya nnton drama… keren.. kerenn… dan keren…
    semangat ya euncha… aku akan selalu meninggu karya karya selanjutnya… dan tentunya ditunggu lanjutan part 13 nya…
    makasii… fighting…!!!

  6. akhir’a part 13 keluar,, wkwkwk..
    ak kira bakal d protect, tau’a yg d protect yg b’a..

    baca part ini bikin deg”an bgt iihh..
    ga sabar kan jadi’a buat part b’a.. coba klo mobil s key ga mogok, udh pasti dia ga bakal dtng k rmh hyeri.. d pkir” key nyebelin bgt bgt bgt.. mnta d babug setiap dia sok”an sama hyeri..

    ayoo kak lanjuuttt crta’a.. hohoho ditunggu

  7. aaaaaahh publish juga part 13nya..
    oh dibagi 2, selanjutnya aku mau pw nya ya ka eunchaaa😀

    aiiisshh….panas merah so sweet…tolong hentikan Key?!! kekekeke~
    itu diakhir siapa yg ngomong? Hyeri kah?? aish..penasarankan:/
    Key klo bertengkar dgn Hyeri dan klo dia kalah pasti ngejailin Hyeri dgn ciuman kekeke suka bgt bagian itu /plakk hahaha lagian Hyeri seneng bgt klo Key kalah sindiran.😄
    lupa dgn Nicole, sepertinya Nicole jd pengganggu nih ga mau nyerah buat dapetin Key.
    itu Key dan Jonghyun tdnya sahabat trus kenapa bisa jd musuh banget yaa?? hmmm…
    Daebak! lanjutkan ka euncha…ditunggu yaa semangaaaattt ^^

  8. “ Eyeliner -mu luntur.”
    huahahaha xD mngkin cm aku yaa yg nganggap scene in lucu.. sumpah ngakak.. ya ampunn enth hyeri emg sepolos it ato pura2 polos buat nutupin kegugupannya.
    Hmm.. it Jonghyun jgn2 suka yaa sm nicole? tunggu..tunggu… dl jonghyun & key it dekat?? koq skrg jd musuh bebuyutan? ahh bkn kyaknya cm key benci sm jonghyun.. tp knp??
    Hubungan hyeri-jjong msh misteri nihh..

    Ahh aku tdnya mau nanya knp part in g jd d.protect trnyata part in dbagi.. tp klo part dpn d.protect, apa jgn2 bakalan ad sesuatu yaa?? hihi.. next part d.tunggu yaa^^

  9. Ada cinta terselubung dari jonghyun ke nicole kayaknya nih😄 yaudah mereka jadian aja,kemudian hyeri-key hidup bahagia. Eh enggak deng masih ada orang ketiga yang lagi ngilang bakalan menporak-porandakan pernikahan mereka~~~
    Dan asdfghjkllll ampun yang akhir buat aku tahan nafas itu buat aku udah NC wkwk,itu alibinya hyeri soal eyeliner😄 pada saingan gengsi -_-

    Iyaaa ini lama banget~ tapi gak apa-apalah terobati sama moment mereka disini haha. Kelanjutannya di tunggu selalu~

  10. omg…itu pa?hehehe
    hayo pda lpa sma prjanjian htam di atas ptih ya?
    Tpi sneng deh dah da prkmbgan ma hbngan mreka..,tpi emag ya yg namanya nicole dr zman DA ampe skrg jdi tk0h pggangu pling jitu

  11. Ahahaha, key malu2in. Gak pro,😀
    Jjong itu baik ya kak. Kasian juga si suka sm nichole tp bertepuk sebelh tangan. Jadi pengen baca kalo key -jonghyun berantem😀 pensrn ntr yg jd permasalahannya apa😀. Ohya kak, part yg ini kurang begitu greget, klo ibarat grafik, mendatar aja(stabil). Hehehe. Krg byk kejutan/ konflik2 kecil kyk part sebelum2nya. Key-nya krg nyebelin, hyerinya jg krg kasian😀 udh itu aja kak. Maaf sebelumnya klo koment momo kyk gini. Semangat kak Momo tunggu lanjutanyaaaa😀

  12. Akhirnya publish juga,,😀 yang bikin penasaran itu, apa masalahnya key sama jonghyun, knapa jadi berantem?? Tapi humor nya lucu pas key ketahuan pake eyeliner,, di tunggu next part nya😉

  13. waah part 13 publish…. ah akhirnya…..
    keren kak, bikin deg”an.
    aq cuma mau kasih comment kak, tadi aq baca ceritanya ada kata” yg spasinya nggak ada…
    cuma itu aja kak ….. tetep keren deh ceritanya… selalu nungguin cerita”nya…
    next partnya ditunggu…

  14. Wuuaahh akhirnya part 13 mncul, udh lma nunggu pas di post eehhh malah telat jauh..
    pout.. -3-.. hehehehehhee. .

    waah, eon aku kra tdi wktu hyeri mngil nama key di mulai tertrik gtu sma key, eehh taunya mlah blang eyeliner key luntur..
    wkwkwkwkw. .. lcu bget..

    DAEEEBAAKKK eon, crta yg eonni buat sllu mnarikk,, heyri tnggu lnjutannya ya eon..
    jgan lma2, jdi SEMANGAT..

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s